Kebingungan Calon Sarjana di Masa Pandemi

Wisuda buat orang tua terhadap anak itu adalah hal yang spesial. Kenapa? Karena sudah lepas dari tanggung jawab belajar di instansi pendidikan selama 16 tahun. Nah, biasanya kalo sudah “selesai belajar” bakalan ada ujian kan di akhir pertemuan? Yap. Betul sekali. Wisuda itu sebenernya ibarat kalian udah belajar mati matian trus capek kan.. nah self reward aja dulu minum netflix sambil boba-an. Padahal habis itu harus menghadapi ujian yang sesungguhnya hwuahwuawha. Bagaimana Langkah yang mau kita ambil setelah lepas dari kuliah, bagaimana mau mencari nafkah, kerja gimana, mengaktualisasikan diri, atau bahkan mikir yang lebih jauh: bakalan nikah sama siapa, beli rumah apa ikut orng tua, cicilan, tabungan, pensiun gimana dan sebenernya yang paling penting adalah: hidup saya bisa bermakna ngga ya..

Yaahh istilahnya Quarter Life Crisis. Problematika manusia usia 20an. Wajar. Saya juga lagi ngalamin. Mungkin kamu juga. Dan sekarang pikiran kita juga ngga jauh beda tentunya.

6 Agustus 2021 kemaren, saya dinyatakan LULUS oleh dosen penguji dan pembimbing saya pasca melakukan Sidang Tugas Akhir di Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dannn, mungkin ini cerita yg mau sy sampaikan ke temen-temen gimana overthinkingnya saya yg bakalan lulus ini #azek

Jujur, rasanya setelah sidang TA dan dinyatakan lulus kemarn… menurut saya yaaa… BIASA aja. Aneh? Yaaa aneh sih. Padahal ya harusnya jerih payahnya selama 4 tahun sudah terbayarkan begitu kan. Kuliah yo bayar dewe, begadang terus. Tapi ntah kenapa hari itu yg saya rasakan cuman..

 “Alhamdulillah LEGA”

bukan yang

“LUWEEEGOOO COOKK UWENAK POL SUMPAH”

Ada beberapa alasan. Alasan yang mutlak adalah karena pandemi. Apalagi varian delta dan PPKM ini. Gara-gara Covidiot beberapa kali jadwal sidang itu diundur. Bahkan diundur hingga sebulan. Lumayan lama, dan itu yang bikin kehilangan vibesnya. Konsep jadi agak lupa, ga ada rasa menggebu gebu untuk segera merevisi karena dilema dengan deadline yang diundur. Yah begitulah mahasiswa pandemi. Meja belajar dekat sama Kasur. Jelas lah saya pilih Kasur. Spring bed pisan. Aduh nikmat banget.

Mungkin kalo jadwal sidang tidak diundur selama sebulan, masih bisa nugas di lab bareng temen-temen, diskusi, ngerjain bareng di rumah Ojan, saya bisa menggabungkan kedua kalimat di atas.

“Alhamdulillaaah, LUWEEEGOOO COOKK UWENAK POL SUMPAH.”

Yang pertama bentuk rasa syukur saya kepada Allah swt. Dan yang kedua, bentuk rasa syukur saya sebagai Arek Suroboyo.

Tapi, ngga semua bisa dipukul rata seperti itu ya. Ada juga orang orang yang merasa lega karena emang terbayarkan segala jerih payahnya.

TAPI, SAYA YAKIN… banyak kebijakan yang dimudahkan karena kondisi pandemi ini. BAHKAN, (imo) SAYA JUGA YAKIN ada dosen yang sebenernya BELOM SIAP untuk meluluskan mahasiswanya tapi tetep meluluskan. Kenapa? Mungkin ada beberapa alasan. Akreditasi? hmm Katrol? hmm entah ya, tapi tentu alasan yang mutlak adalah karena pandemi ini. 

Bahkan di angkatan saya ada beberapa teman yang selama pandemi ini kehilangan anggota keluarganya. Orang tua, kerabat, kakek nenek, bahkan saya sndiri yang kehilangan adik saya.

Baca Selengkapnya: Sampai Jumpa Lagi Ari!

Tentunya kampus tidak ingin semakin membebani mahasiswanya karena (naudzubillah) nggak dilulusin. Dan lagipula dosen-dosen di Interior itu emang pada super duper ultra mega BUWAIK POL. 

Salah satu bentuk rezeki juga loh dikelilingi orang orang baik. Saya dapet cerita dari temen saya, pas Sidang Akhir malah ngga ditanyain yang sulit sulit tapi justru banyak diberikan saran sama nasehat. Well, as I said. Semua dipermudah.

Tapi poin saya sebenernya ke temen-temen ini jangan sampe dilema dengan segala kondisi ini. Justru harus inget kalimat di paragraf pertama. Setelah “selesai belajar” sudah siapkah kita menghadapi “ujian sesungguhnya?"

------------------------------------

Kepikiran ngga sih, kalo perjalanan karir kita ini selalu jatuh di dua pilihan: NEGERI atau SWASTA.

Sekolah Dasar, Menengah, Atas, Perguruan Tinggi. Hingga akhirnya di ujung, kita pun bakal dihadapkan 2 pilihan: NEGERI atau SWASTA. Kalo Negeri, udah jelas jalannya, karirnya, jaminannya bahkan sampe hari tua. Yapss betul sekali profesi itu adalah PEGAWAI NEGERI SWASTA.. EGhhhh Pegawai Negeri Sipil. Atau biasa kita sebut Pe-En-Es.

“Mas nopal, bukannya kalo mau jadi Pegawai Negeri Sipil kuliahnya harus Teknik Sipil yaaaahhh?”

Ya engga dongggggg yakali ngerjain RAB pake autocad

-- 

Yaps, menjadi PNS sudah jelas bakalan jadi “CALON MENANTU IDAMAN.”

Gaji mu gabakal turun, Ada jaminan Kesehatan, jaminan hari tua, Duit Pensiun mengalir. Siapa yang ga tergoda coba dengan spesifikasi kayak gitu? Coba aja eksperimen kamu ke rumah gebetan kamu, kenalan sama bapaknya..

-- 

“Assalamualaikum, om.”

“Waalaikumsalam, oh ini yaa pacarnya si ***** ? hehehe, Namanya siapa?”

“Ohh engga om cuma temenan aja kok.. hehe nama saya Naufal PNS Afthony. Panggil aja Nofal. Salam kenal ya om..”

“Ehiya salam kenal, om… eh, ehmm.. wah…  Nofal mau ngga ngelamar saya? ehhhhhh mksud saya sm Anak saya.”

-- 

Lah, malah bapaknya yg pengen jadi bojomu...

Iyaasss, menjadi PNS adalah sesuatu yang diidamkan banyak orang. Apalagi di keluarga saya mayoritas berasal dari instansi pendidikan. Baik itu guru (apapun) atau dosen. Ibuk saya udah berkali kali bilang “Dek, ayo ndang S2, jadi dosen di ITS kalo bisa”  blablablablaaa. Dan saya pun juga kepikiran sih pengen jadi dosen kayak dosen-dosen saya di Desain Interior ini. Udah pada pinter-pinter, keren, menginspirasi, baik-baik yaAllah pak buk semoga jadi amal jariyah buat bapak ibuk semuanya.. Amiin.

Di lain sisi, ketika kamu berprofesi di bidang swasta: Gaji jelas bisa turun kalo performa kamu memburuk, jaminan Kesehatan? Hmm belum tentu. Jaminan hari tua? Lah emang seyakin itu bisa makmur sampe tua di tempat kerjamu? Mana Sabtu juga masih masuk… Eh Minggu juga harus ambil jatah lembur biar bisa menggapai financial freedom. Hah? Mana bisa weh, Lagi PPKM Darurattt... Dan kisah kisah buruk lainnya.

Tadi adalah salah satu contoh perusahaan swasta yang abal abal loh ya. Jangan disamaratakan hehe. Poin yang paling keliatan kalo kerja di  tempat swasta mungkin adalah PACE. Kecepatan, Segi teknis yang maknyus, sistem yg selalu up to date. Yang pertama jelas karena lingkungan kerjanya adalah orang-orang yg ahli di bidangnya, dan circle itu yg membuat koordinasi jauh lebih baik. Bertolak belakang bukan dengan si PNS yang selalu disebut "terjebak dengan sistem, kaku & boomer" 

Yang kedua, (mungkin) kalo di swasta itu ga ribet di administrasi, akselerasi yang oke dan kesempatan belajar yang lebih gede karena ngga dibatasin dengan tanggungan-tanggungan lain. Dan terakhir, punya tangga karir yang jelas. Misal: Junior Designer -> Senior Designer -> Creative Director -> Project Manager atau bahkan CEO ? dan seterusnya. Keren kan?? Jelas bisa jadi CALON MENANTU AGAK IDAMAN. 

source: Narasi | CPNS or Swasta, Apa yang Lo Paling Cari Di Kerjaan

Tapi lagi lagi semua ada plus minusnya. Dan saya sendiripun juga masih bimbang mau ambil jalan yang mana. Yang jelas kebimbangan calon sarjana ini memang agak merepotkan. Apalagi masa pandemi membuatnya jadi makin keruh. Karena Langkah awal ini jelas berpengaruh ke jalan-jalan yang akan saya tempuh.

Ibaratkan ujian, soal pilihan ganda nomer satu udah salah. Eh nomer dua juga pasti jadi ragu kan, nomer tiga gimana? Empat? 

Tapi jawaban yang jelas adalah saya bakalan cari “sekolah” lagi. Bisa berarti S2 bisa diartikan juga cari kerja. Poin pentingnya adalah, saya harus cari “tempat / lingkungan” yang membuat saya selalu merasa bodoh diantara lainnya. Karena itu justru tempat yang paling tepat, karena kesempatan berkembang lebih besar. Ada figure atau sosok yang bisa dijadikan contoh, yang suportif. Ketemu kakak dan guru-guru baru. Karena lagi-lagi, sebenernya tempat kerja dimanapun yang bikin seneng adalah ketika kita bisa mengaktualisasikan diri, kalo urusan gaji mah nomor satu. #eh

Sudah pernah saya tulis di postingan : KULIAH SAMBIL KULIAH.

 “Sekolaho seng pinter le, sokmben ben iso dadi uwong.”

Tagline tadi, menurut sya yang melandasi pentingnya sekolahBukan “belajarlah” tapi “sekolahlah.” Yang maksudnya belajarmu itu melalui institusi pendidikan, lingkungan pendidikan: sehingga bisa jadi *orang.

Baca Selengkapnya.. (Kuliah sambil Kuliah)

------


Makanya, buat mahasiswa tua yang baca ini, smster akhir akan menjadi momen yg agak menyedihkan ketika mengerjakan Tugas Akhir. Kamu bakalan kangen rapat, kangen diskusi, riwehnya himpunan, ribut adu argumen klo lg forum, daan lain lain. Karena kalian sudah berganti kepengurusan, semua pasti kangen dengan "lingkungan" itu.

Yah itu kalo saya loh ya. Beda cerita kalo kalian memang sangat berambisius menekuni profesi, dan memang ingin menciptakan Tugas Akhir yang membagongkan. Ya tapi seambis ambisnya orang pasti memang perlu liburan kan~


Perayaan Pasca Sidang K2 bersama segelintir manusia-manusia DI-07

Sebenernya kalo bingung pun justru bagus. Saya jadi lebih tau konsekuensi dari beberapa jalan yang sudah saya pilah. Tapi lagi-lagi juga tidak menjamin kedua pilihan di atas nasib anda jadi bagus, makmur, dan sejahtera. Bisa jadi kamu sudah mengatur semuanya, merencanakan hal hal detailnya, Eh Allah membalikkan kenyataan. Justru bagus loh, karena biasanya kejadian kejadian buruk justru jadi pembuka cerita hebat. Ingat, Allah Yang Maha Merencanakan (Al-Baari).

Yap itulah bedanya definisi tentang “sekolah”. 

Kalo sekolah scara umum: kalian belajar dulu baru diuji. Kalo sekolah ttg kehidupan, diuji dulu baru kalian belajar. Jadi, siapkah teman-teman terjun ke panggung yang sesungguhnya? 

Jangan mudah tertekan gaez, kalo ditanya "kerja dimana" jawab aja masih cari-cari. Masih nunggu panggilan, oh ini lagi mau daftar dan lainnya. Yang penting kasih jawaban kalo kita sambil bingung juga sambil gerak. Lagian, emang umur segini harus selalu sukses? Harus masuk Forbes 30 Under Pressure ?! Harus punya banyak prestasi? harus punya saldo ratusan juta? Yaelah..

Tidak masalah jadi orang yang biasa-biasa saja. Tidak kaya, tidak miskin, Tidak cantik, tidak jelek. Tidak punya jabatan, namun tidak pula terlupakan, Tidak genius, tidak pula bego-bego amat. Menjadi biasa-biasa saja itu juga indah. Yang masalah itu adalah tidak terbiasa menjadi orang.

Dikutip dari buku : "Kami (Bukan) Jongos berdasi" karya J.S. Khairen

 --

Kemanakah Langkah pertama seorang Naufal Afthony? Apakah mengambil jalur Negeri? Swasta? Atau dua duanya? Atau kawin dulu?! Nantikan kisahnya! Hanya di Naufalafthony dot blogspot dot kom.

Yailah ngiklan.




Posting Komentar

4 Komentar

  1. As always bacanya menikmati. Keren om semoga sukses belajarnya di manapun. Suwun.

    BalasHapus
  2. Hehehe makasih Mas Naufal, menteri Medsi yang buaiik pol, tulisannya suka saya tunggu-tunggu sejak jaman maba. Jujur dulu gara-gara baca tulisannya Mas Naufal saya jadi bisa lebih siap-siap lagi kuliahnya. Barakallah graduationnya, terima kasih ilmu-ilmu dan inspirasinya juga Mas wkwk. Jadi ga overthinking lagi nih di taun terakhir. Ga pingin masuk Forbes 30 Under Pressure juga se wkwk :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaa sama mutiaa, terima kasih juga atas bantuan kerja samanya di Medsi haha, aku jg terinspirasi jg dari karya2 tulismu btw. Satu satunya mahasiswa Desain yang paling sering baca buku dan menulis ngahaha

      Hapus