Sabtu, 10 November 2018

Posted by Naufal Afthony |


            Sudah 2 semester aku menjalani perkuliahan, dan sebenernya artikel ini agak telat, yah karena longgarnya baru sekarang hehe. Banyak kisah yang mau aku ceritakan selama setaun di Desain ITS. Dan jadi mahasiswa desain itu bukan hanya banyak suka dukanya. Lebih dari itu. Ada suka, sedih, amarah, bahagya, bahkan aku menemukan asmara EAAAA

Banyak sekali pandangan orang orang tentang kampus perjuangan ini. Banyak yg bilang, “Arek ITS iku gak tau turu ancen. Uripe karo lapres, tugas tok wes.” Bisa disimpulkan maksdnya adalah Institut Tidur Sedikit, bisa juga Institut Tugas Seabrek atau bisa pula Isok Turu Sangar. Macem-macem lah. Ada juga pandangan yang mengatakan, “Eh di ITS itu mahasiswanya cuantik cantik lohhh!” Bisa disimpulkan maksudnya adalah kampus Desain. Bisa juga Arsitektur, Industri,  Hmm.. apalagi ya, wkwk.

Satu lagi yang terkenal dari ITS: kaderisasi.

Yap. Ketika maba, kata Kaderisasi menjadi pertanyaan besar bagi aku. Apa itu, Ngapain aja, kok gosipnya sampe setaun, dll. Pandangan orang orang "cethek" pasti selalu buruk ttg hal ini. Alah isinya cuman marah-marah doang gajelas, senioritas, gak berguna, arogansi. Dulu akupun juga berpikir demikian.. ternyata setelah menjalani berbagai tahap, proses dan sampai saat ini. Wah wah penuh rasa syukur aku bisa dapet ilmu-ilmu mahal dari kaderisasi :)

Begitu banyak pengalaman" yg aku dapetin dari kampus, mulai dari awal ketika belum dikukuhkan menjadi maba (2017) sampai sekarang mau dikukuhkan maba yg baru -> (2018).

GATHERING


Aku bersyukur bisa hidup di generasi gadget. Karena udah setor muka sama nama lewat Line. Dan aku juga bersyukur bsa bermanfaat buat temen-temen, karena karya twibbonku sampek viral se-Indonesia raya wuakakaka.  Hampir 50 orang dateng. Dan karena aku yg kebetulan ngeditin twibbonnya, pas dateng dan kenalan aku jadi tau mana aja yg suka ngedit foto brightnessnya dinaikin jadi 500% penasaran? Silahkan dibuka #InteriorITS2017 di Instagram.

Karena rumahku jauh di Sulsel (Sulabaya Selatan), alhasil aku terlambat datang. Tapi aku di sambut dengan meriah sama mereka. “Selamat datang bapak twibbon kitaa! Makasih yaa udah dieditin! Ayo rek bilang makasih semua ke Nofaal! *CYUUU… DAR! CYUUUUU… BLAR!! WADOOOHHHH (Mata saya kemasukan mercon) Kretekkretekretek..ALAAAYY BNGZZDDD

Asyik loh ngobrol sama temen-temen baru dari daerah baru.

*Ngangguk, salaman.* “Aku Nofal, sampean? Asmane sinten? Saking pundi asale?”
“Huh?”
“Ehmm,, sorry-sorry. Kenalin bro, nama gw Nofal. Nama lu siapa?”
“Ohhh, nama gw Afthony. Salam kenal ya ganteng.”

Yah, Aku lupa. Nggak semuanya dari Surabaya, Ada yang dari Aceh, Jakarta, Jombang, Makassar bahkan nggak ada yang dari Jamaica!  Akhir acara, kami semua pun foto bersama. Dan, jangan lupa. Karena kita hidup di generasi gadget, foto doang ya ga cukup dong. “Ayo Bumerang, boomerang! Eh pake gayanya si Nofal dong! Melet-melet sambil goyang jempol dua jari. Kesimpulannya: Karya twibbon saya emang bagus, tapi saya menyesal seumur hidup melet-melet kaya bgitu.

GERIGI

Gerigi itu nama ospeknya ITS. Yap. Generasi Integralistik. Asyik dan menyenangkan (lagi) ketemu sama orang-orang yg unik. Siap-siap aja buat maba yg habis ini gerigi 2018. Selama 3 hari kamu akan merasakan dahsyatnya, asiknya sebuah mahakarya mahasiswa ITS, khususnya panitianya. Dan selama 3 hari kamu akan merasakan panas yang dahsyat. Sudah terbukti. Buktinya pas aku pulang ke rumah, Ibukku bahkan lupa sama anaknya sendiri. “Loh kamu siapa? Anakku kok.. wireng?” alay.

Di Gerigi, ada asyiknya ada ga asiknya. Ga asyiknya itu cuman duduk dengerin bapak/ibu dosennya nyampein informasi ttng ITS. Asyiknya itu waktu di hari hari terakhir. Setiap komunal/kelompok wajib menampilkan pentas seni kecil-kecilan. Dan alhamdulillah penampilan dari kelompok “Fedi Nuril” bisa dibilang terbaeq lah pokoknya ((: Ini orang-orangnya




Ketika semua kelompok tampil dengan format yang sama yaitu: tentang cinta, drama terus nanti nyanyi-nyanyi bareng. Ah basi. Kelompok Fedi Nuril tampil #beranibeda ((: Kami menampilkan sebuah drama ttg keanekaragaman Bahasa dan budaya daerah dari temen2 anggota kami. Karena ada yg bisa Bahasa ngapak, ada yg dari Timor Leste, ada yang super kocak, wasyeklah pokoke

Jadi konsepnya itu kami dari berbagai daerah lagi beli nasi terus rebutan tah apa trus ada 2 bencong trus ada orang gila gangguin. Terus kami dipersatukan dengan lagu yg mempersatukan kita walau kita berbeda,gajelas ancen. Nah entah kenapa saya dipilih jadi bencong secara mutlak sama temen2 karena bulu mata saya yg lentik. #AYAHMENGAPAAKUBERBEDA Nah karena temen2 cewek ada yg bawa lipstick, Disitulah kejantanan kami luntur. Awalnya sih pada gamau. Tapi, karena kebersamaan dan berani sama-sama gila. Saya sama temen saya memberanikan diri memakai gincu.

A: “Yaopo pal? Gae gincu iki lo.”
N: “Ojok cik, nggilani. Didelok arek 400 iki coeg. Nglintek raiku”
B: “Nek kon kabeh wani gendeng aku yo wani gendeng rek.”
N: “Yowes sikat!”

Akhirnya.. sudah diputuskan. Saya jadi bencong sambil main gitar. Terimakasih teman-teman Fedi Nuril ((:
 

Nggak malu kok rasanya. Bangga dan asyik merasakan hal yg juga dirasakan sama temen-temen saya hehehe, bahkan muka saya sama temen2 saya yg gila masuk di video highlight Gerigi ITS 2017.  Cuman sepersekian detik

Bersenanglah wahai adik-adik maba yg ikut gerigi. Bisa jadi anda bertemu jodoh anda dari lain jurusan. Gapapa modusin aja dulu. Saya aja sampe sekarang, kadang masih modusin dia. (Dia siapa pal?)
-----------

Memasuki OKKBK, memasuki ospeknya jurusan. Yaa hampir sama kok kayak gerigi. Samanya ya sama-sama seneng-senengnya. Bedanya habis acara kayak ada serem-seremnya gitu (: Mungkin jurusan lain juga sama. Ketika acara udah selesai tiba-tiba semua anak dikumpulkan di lapangan. lalu muncullah kakak-kakak berjaket keren berjejer didepan *meminta pertanggungjawaban*. Degdegan, keringat bercucuran, umbelku berjatuhan. Hawanya sih gak panas, tapi suasana di hari pertama itu menjadi pukulan buat temen-temen angkatan 2017. Tips dariku kalo mau cari aman: Menjawablah. Bahkan karena saking seringnya aku yg jawab masnya sampe bosen “NOFAL TOK! YANG LAINNYA KOK DIEM AJA WOY!” Jangan dilanjutin deh ceritanya. Terlalu berharga ((:
---------

Fakta fakta tercyduk di Kampus Desain

1.    Cowoknya cakep cakep
Bagi kalian yg merasa kaum hawa butuh cuci mata cari kakak-kakak ganteng, mungkin mendaftar sebagai mahasiswa di ITS adalah jawaban yang tepat. Dan mendaftar ebagai mahasiswa Desain juga tidak sepenuhnya salah. Banyak banget cowok-cowok kece di kampus desain ITS ini. Tapi mohon maaf. Kalo kalian cari yg ganteng di angkatan 2017 (Desain Interior), mending kalian pindah jurusan aja.
 
Coba lihat.
Bandingkan dengan angkatan yg lebih senior.
Angkatan senior semuanya kece, rapi dan terlihat berwibawa. Coba lihat angkatan 2017. Mukanya udah kayak supir angkot yg hobinya main layangan, bersahabat dengan panasnya Surabaya. Kecuali Tomingse yg ditengah.

Tapiiii, kalo soal kualitas karya. InsyaAllah kami nggak kalah keren kok ((:

2.    Kuliahnya nggambar-nggambar doang, Nirmana bikin setres
Kalo kuliah nggambar-nggambar doang kenapa emang? Memangnya menggambar bikin bego? Enggak kan. Yaa kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah kok sebenernya. Kadang ketika dapet tugas dari dosen pun saya juga bertanya-tanya, lah esensinya apaan cobak bikin gini doang? Tapi jangan mengesampingkan skill menggambar. Menggambar di kampus DESAIN ITS tujuannya bukan untuk menggambar indah. Mohon maaf kampus kami bukan kampus seni. Tapi kampus DESAIN. Kami dibiasakan dengan kegiatan merancang, berpikir, penyelesaian masalah, olah rasa, dan dengan penerapan teknologi pastinya. Dan dari semua tugas dosen yang diberikan semua pasti ada hikmahnya.

3.    Anaknya estetik, Banyak cowok gondrong yang keren-keren, Ceweknya cuwantik cantik, pinter pinter semua.

Sori, kategori ini masuk fakta.

    Selama setahun di ITS bersama DI 07, aku banyak belajar dan banyak berubah. Bagaimana mau ambil peran, bagaimana menghadapi masalah, dan bahkan bisa menjadi orang yg berpengaruh di lingkungan. Toh, kata Baginda Rasulullah sebaik baiknya umat adalah yg bermanfaat untuk orang lain. #tjakep

    Aku selama di ITS juga mengamalkan sebagian ilmu. Misal dari hobi mendesain, saya amalkan buat ikut jadi panitia Ini Lho ITS, Panitia SPASIAL, dan kepanitiaan yg lainnya. Misal juga dari cara saya bisa memanajemen kegiatan, komunikasi dan leadership, saya amalkan buat jadi Ketua panitia acara, jadi konseptor, jadi koordinator lapangan ngatur ini itu dll. Pokoknya selama aku mampu melakukannya, sikat aja wkwk. Semakin besar peran yg diambil, semakin besar juga resikonya. Tapi juga insyallah besar amalannya (:

    Karena prinsip saya ketika ngelakuin sesuatu ya harus beramal. Amal ini adalah lauk pauk bekal saya menuju dunia yang sesungguhnya. Bukan dunia yang fana’ ini.

Saya sangat bersyukur bisa ketemu dengan keluarga ini, DI 07. Terima kasih banyak teman-teman. Ditunggu kisah-kisah perjuangan di tiga tahun berikutnya! Kamu juga ya! (kamu siapa coeg)



E U F R A N A U - D I  0 7 
1 4   M E I   2 0 1 8


Sabtu, 10 Februari 2018

Posted by Naufal Afthony |
   


   Selama 12 tahun lebih masa pendidikan, kita dituntut untuk belajar, dan bukti dari proses belajar itu outputnya adalah sebuah nilai. Angka atau nilai yang ada di rapormu, kertas ujianmu, buku catatanmu ataupun di integra.its.ac.id-­­mu adalah hasil dari proses belajarmu. Yap. Nilai akademik menjadi standar atau bukti proses belajarmu mas bro. Ojok ngeyel. Wes umum nang Wkwk Land.

   Sebenarnya tidak hanya dalam dunia pendidikan aja sih. Segala hal yang kita lakukan, selalu mengarah pada kalimat pasaran ini: “HASIL TIDAK AKAN PERNAH MENGHIANATI USAHA.”

   Tapi bagaimana how jika if adalah is? apakah what mungkin maybejasbdas$$831dnnqowpue.m134aseloleuhuynaufalafthonyganteng

   Tapi bagaimana jika Bang Hasil menghianati Neng Usaha? Apakah ada sebuah kejanggalan? Kesalahan teknis? Mungkinkah terjadi? Apa benar kalo Bang Hasil ini selalu setia pada apa yang dilakukan sama Neng Usaha?  Hmmm..

---------------------

   Pagi ini (09/02/18) ada kelas “Gambar Teknik 2” di kampus, dan semester ini aku dapet dosen yang sangat disiplin, perfeksionis apalagi dalam hal waktu. Yah sebut saja depannya Na, Belakangnya Nik. Nikna. (Yeeee ngelawak-_-). Iya, Namanya Bu Nanik. Beliau adalah dosen hijabers yang kalem, bijaksana, dan berintegritas (: Yang bilang beliau dosen killer mungkin bukan mahasiswa. Malasiswa tepatnya. ngowakoakakakwoa.

   Yang membuat saya takjub sama Bu dosen ini adalah ketika pertama kali masuk, beliau mengatakan dengan tegasnya, “IKHTIAR BISA MENGHIANATI USAHA” (ikhtiar=boso arab e usaha).

   Seketika mendengar kalimat tersebut, kepalaku langsung bangun dari lipatan kedua tanganku, dan aku pun mulai mengasah telinga agar makin tajam mendengar setiap detil perkataan beliau. #anjay
   …
   “Kenapa saya bilang demikian? Padahal kan emang sudah sewajarnya kalau hasil tidak akan menghianati usaha? Dunia ini sangat dinamis. Statement seperti itu nggak bisa dijadikan acuan. Membicarakan ttg hal ini, Saya punya sebuah kisah menarik tentang pengalaman anak saya. Dulu, ketika SMA, anak saya  termasuk siswa yang cerdas, rajin dan menekuni apa yang dia pengen. dan di akhir masa sekolah dia sudah memutuskan mau masuk Fakultas Kedokteran. Saya sebagai ibunya juga mendukung. Pengen banget punya anak berprofesi sebagai dokter. Walaupun background keluarga kebanyakan Teknik. Suami saya juga, dia arsitek. (Respon temen-temen: JUWAMBREEED :0)

   Ketika pendaftaran SPMB, Ibrahim ini (nama anak saya) pengennya di FK UI. Saya saranin FK Unair aja, soalnya enak. Kampusnya di Surabaya, bisa ngawasi dan tetep mendidik, akomodasi juga nggak terlalu banyak. Kan kalo di UI bisa habis berapa juta itu. Tapi dia ngeyel pingin FK UI. Yasudah saya turuti. Trus pilihan kedua saya suruh pilih Teknik Sipil ITS. Soalnya saya suruh milih arsitek nggamau. (Respon temen-temen: JUWANGKREEEEEEK :0)

   Waktu hasil pengumuman muncul, skor si Ibrahim ini termasuk tinggi, Tapi, ternyata Ibrahim masuk di pilihan kedua. Padahal faktanya, waktu dia nanya skor temannya yang keterima di FK UI, Hasilnya Ibrahim itu lebih tinggi dari kepunyaan temennya. Berarti, secara rasional seharusnya keterima kan ya? Secara rasional, bukti angka, skor yang objektif, anak saya layak masuk di FK UI. Tapi, kali itu terbukti bahwa Hasil Menghianati Usaha.” Yasudah, bersyukur saja diterima di Teknik Sipil, nggapapa, nanti dicoba lagi di SIMAK UI. Allah pasti punya rencana lain, tutur saya.

   Waktu pendaftaran ulang di ITS, dan yg waktu itu juga belum bertepatan dengan jadwal tes SIMAK UI, ada sebuah kejadian yang bikin saya sangat kaget. Anak saya selepas daftar ulang ini, dia jalan-jalan ke FK Unair. Dia jalan-jalan keliling di FK. Seperti menyatakan bahwa ‘saya pantas, saya siap jadi mahasiswa kedokteran!’ Saya sebagai ibunya ya kaget dong. Waduh bahaya ini Ibrahim, kalau obsesinya sampai segitunya. Bisa gawat. Akhirnya saya bilangi begini-begini.

   Sebenarnya di SIMAK UI saya juga ragu sama anak saya, karena yang mendaftar itu jumlahnya 30.000 lebih, dan yang diterima di Kedokteran kuotanya hanya 15 orang aja. Secara Rasional, kesempatannya sangat kecil. Bahkan ngga mungkin. Ya Akhirnya, yasudah. Tetep ikhtiar saja.

   Dan ternyata ketika pengumuman SIMAK UI, Ibrahim keterima di Kedokteran UI.  

   Sudah bu. Cukup. Saya aja yg nerusin ceritanya. Ini Naufal Afthony Blog bukan Nanik Blog.

   Bu Nanik mengatakan yang terjadi itu bukanlah kebetulan melainkan memang “oh Anak saya pantas mendapatkan itu.”, Bu Nanik pun juga melanjutkan kisah dari anaknya lagi (episode 2) ketika melakukan ujian akhir koas (istilah dokter muda atau mahasiswa kedokteran yg udah sarjana S1 & lagi magang di RS biar bisa dpet gelar dr) , anaknya ibarat diberi sebuah keajaiban. Kalo mau dengar cerita episode 2, silahkan tanyak sama mahasiswa Desain Interior yang diajar oleh beliau. (Ngomong ae males ngetik huuuu). Saya yakin pasti banyak yang tau, dan saya juga yakin banyak yang pikun. (aelah)

   Dari kisah tersebut, sebenarnya dari awal memang benar HASIL TIDAK MENGHIANATI USAHA. Karena pada dasarnya, Mas Ibrahim memang berjuang mati-matian mendapatkan Kedokteran. Walaupun gagal, tapi ada kesempatan lain dan akhirnya pun dia mendapatkannya.

   Yang saya garis bawahi dari cerita beliau ini adalah..

   “Dari kisah yang saya ceritain tadi, jangan mengharapkan hasil dari ikhtiar yang sudah kamu lakukan. Itu kurang tepat! Yang benar adalah: “Ikhtiar semaksimal mungkin untuk memantaskan diri.” Ketika melakukan hal baik, berikhtiar, rajin, dan lain sbgainya itu untuk memantaskan kita agar layak dibalas oleh langit. Dibalas oleh Allah. Jangan selalu mengharapkan hasil. Bahkan kadang, ketika kita berikhtiar untuk memantaskan diri, dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi, kita diberi halangan, cobaan. Seperti kisah anak saya tadi, justru nanti Allah itu akan menghujani kebaikan ketika kamu melakukan segala sesuatu. Dan datang disaat memang membutuhkannya. Jadi kalau saya dosennya, ngga perlu takut dapet nilai jelek. Nilai itu hanya bonus. Karena pendidikan itu sebenarnya bukan output nilai yang penting, tapi prosesnya. ***dilanjutkan pembahasan ttg nilai*** Ingat. Kita wajib berikhtiar, berusaha maksimal untuk memantaskan diri.”

   Rasanya saya ingin standing applause di hadapan beliau dan memberi golden ticket untuk diberangkatkan ke Jonggol. #uhuy

   Memang benar. Hasil tidak menghianati usaha. Dan saya rasa, statement tersebut perlu saya ganti menjadi Berusaha untuk memantaskan diri.

   Sedikit cerita dulu waktu SMA, aku pernah ikut kegiatan lomba film pendek. Ngerjainnya penuh dengan rasa cinta, sempet bolos ujian remidi olahraga (renang) gara-gara ngerjain ini. Dan ketika jadi pun, aku sudah merasa bahwa, Filmku ini pantas masuk nominasi, insyallah juara. Amiin.

   Tapi nyatanya, ketika paginya pengumuman nominasi (tahap screening) FILMKU NGGAK MASUK.
   Dari 20 Nama Sekolah, NGGAK ADA NAMA SMAN 16 SURABAYA. Refresh berkali-kali, tetep nggak ada. Dan ketika nanyak temenku SMK-ku yang kebetulan temannya masuk nominasi (temannya temenku) dia bilang gini: “Embo aku yo heran 4 tim masuk nominasi kabeh, padahal guruku dewe ngomong film e biasa, editane biasa tapi kok isok melbu. Eman wekmu.”

   Secara logika, secara rasional, filmku pantas masuk nominasi. Tapi nyatanya? Gak gitu. Aku bener-bener kecewa, sedih dan marah. Rasanya Alam semesta nggak adil. Aku sangat nggak terima. Tapi eh tapi..

   Seminggu, Sebulan setelah film itu ku-upload di YouTube, menuai banyak komentar baik. Dan aku pun sempat dihujani kebaikan-kebaikan yang lain, diliput koran, diundang ini itu gara-gara film itu. Apakah ini sebuah kebetulan? Bisa jadi. Bisa juga tidak. Jawabannya adalah ucapan dosen saya tadi. Ikhtiar untuk memantaskan diri. 

   Sebenarnya kalian yang mbaca ini pasti pernah merasakan kejadian serupa. Nggausah jauh-jauh. Pasti kita punya teman yang di Sekolah itu puuuwwwiiintterrr, dikenal baik oleh guru dlll. Tapi pas UNAS, nilai nem nya jatuh, jeblok. Tapinya eh tapinya, Emas ketika jatuh di lumpur pun, tetaplah emas. Gak mungkin jadi lumpur ataupun tai kebo. Dia tetap berhasil di jalan yang dilaluinya, bahkan melebihi kawan-kawan yang nilai nem-nya bagus, masuk PTN, ataupun Sekolah ternama. Saya pun juga punya temen SMP yang terbilang sudah menaiki anak tangga melebihi kawan-kawan yang lain. 

"Loh fal,thon,mbang,dun tapi lo aku punya temen yang emang dia ditimpa nasib buruk terus. Dia ngga pernah dibalas kebaikan. Padahal dia berusaha terus terus terussss."

   Itu kan katamu, bukan kata orangnya. Yang bisa mengukur maksimal atau tidak kan ya orang itu sendiri. Yang tau potensinya ya orang itu sendiri. Dan JANGAN CUMAN USAHA. Inget kata yang saya pakai: IKHTIAR. 

* Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. *

   Apa aku bilang Ikhtiar itu nggak diselingi dengan do'a? Silahkan baca ulang kalimat diatas, pahami betul maknanya. Yuk, kita sama-sama berikhtiar untuk memantaskan diri. Pantas bahwa saya layak menerima kebaikan. Pantas bahwa saya layak mendpatkan cintamu #HUWEEEKKKK 

Rabu, 18 Oktober 2017

Posted by Naufal Afthony |
   

    Lagi enak-enak ngescrool down chat gebetan, (padahal gaduwe) eh tiba-tiba ada notif masuk dari gebetan lain (seng nggenah), masuk notif dari LINE TODAY, dan begini Headline nya:
    Jadddiiiiii…
    Di pidato politik perdananya Pak Anies ini tiba-tiba menimbulkan kontroversi. Karena beliau bilang begini 

"Dulu kita semua pribumi, ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,"
    
    Nah dari situ, banyak orang yang ribut karena Pak Anies dianggap mengatakan isu rasial yang melanggar Undang – Undang No, 40 Tahun 2008, tentang Penghapusan Ras dan Etnis serta Inpres No. 26 Tahun 1998 tentang Pelarangan Penggunaan Kata Pribumi dan Non Pribumi.

    Kabarnya sih ada yang sampe lapor ke Bareskim Polri, ada yang lapor ke Pak Jokowi, minta Pak Anies untuk dapat teguran dsb. Kalo yang belum tau sama sekali (kebacut) bisa baca disini beritanya:
    Kalo kita sangkut pautkan dengan “anu” yang sebelumnya,
sudah pasti berita ini langsung panas, hot, pedas. Sepedas lambe turah. Tapi masih pedesan kamu nggak bales chatku sih :"(

    Ketika aku baca beritanya, tiba-tiba spontan muncul kata “KARMA”Mungkin, kalian juga berpikiran seperti itu? Tapi alhamdulillah hanya sebuah spontanitas. Dan aku juga gak ngeributin dan nerusin masalah beginian. bodoamat.

    Kalo kita mencoba melihat ke sudut pandang orang-orang yang lapor, bahkan sampe ke Bareskim Polri, Pak Jokowi… anu,

“TRUS OPO? TERUS KALO PAK ANIES KENA TEGUR? KENAPA EMANG? WHAT'S THE POINT?

   Kalian senang? 
    Kalo aku senang cukup dengan kamu ngasih perhatian ke aku ajataeq.

    Sudah pernah aku tulis di postingan sebelumnya,ini-> (Melihat ke Segala Arah
  
    Menghadapi media jangan sampe kayak "fast food" yang cepat saji, ringkas tapi nggak sehat sama sekali, banyak lemak jenuh. Ini contoh para pengkonsumi lemak jenuh:

tidak terlalu jenuh karena nggak menyerang

Jenuh banget. Foto profilnya apalagi, ewh

ngemeng epe
    Saya sendiri udah muak sama oknum-oknum yang "kampungan" yang dikit-dikit suka lapor, rewel, riwik. Kepala dan pikiran mereka sudah terkotaki dengan negative thinking. 

    Media kadang-kadang juga demikian. Ketika hal yang super duper ultra mega gapenting ini diangkat menjadi sebuah berita, bahkan sampai mengundang narasumber. Yah tapi namanya aja media sih, Hal-hal tabu, hal-hal apapun yang viral akan membuat rating naik. Dan sudah pasti mereka akan totalitas dengan ketololan ini. sebut saja: Tololitas.

Kalo yang ini nggak tolol. Soalnya meluruskan berita. Yang tolol itu yang ngeributin dan ngelapor
    Oke, kembali ke berita. Pak Anies bilang kalo pidatonya itu konteksnya mengenai penjajahan. Lihat full videonya aja, Jadi YAUDAH. GAUSAH DIRIBUTIN EEQ!!!

    Rabu ini saya dapet pelajaran yang unik dari Dosen saya. Beliau menjelaskan seorang Designer itu harus punya sudut pandang yang luas. Karena Designer itu bukan hanya belajar "menggambar" tapi juga "melogika" artinya, kita Designer itu memadukan hal-hal yang eksakta dengan hal-hal seni yang ngabstrak. WANJAY ASIK BET. Kebayang kan kalo pacaran sama anak desainasdwjqiqwlkdkngimpi.

    Pak Dosen juga menjelaskan dengan analogi yang menarik dan mudah dipahami tentang memperluas sudut pandang.

    "Coba ubah sudut pandangmu. Ketika kita berkendara, Kita berhenti bukan karena lampunya sedang merah, kalo kuning digas lebih kenceng. bukan. Kita berhenti ketika ada persimpangan, nah di persimpangan sudah pasti banyak pengendara dari lajur lain yang mau lewat. biar saya tidak ketabrak, oh saya harus mengurangi kecepatan atau berhenti. Kenapa berhenti di belakang garis, Oh siapa tau ada pejalan kaki yang mau menyebrang, toh itu haknya mereka. nah jadi begitu. mudah dipahami ya?"

    Oke, para netijeennn,
    Mari menjadi Netijen yang berbudiman dan gak gampang rewel. Uhuy!
Oiya netijen, sebelum pamit. Kalo benar2 sudah tidak tahan dengan oknum yang suka rewel dan dikit-dikit lapor.. saya ada saran:



Jumat, 13 Oktober 2017

Posted by Naufal Afthony |

    Dalam suatu lingkungan institusi atau pendidikan, pasti ada suatu kewajiban, ada suatu keharusan dimana individu yg didalamnya perlu menganut / mengikuti kewajiban trsebut demi terciptanya lingkungan yg memang "mendidik". 

   Kewajiban ini kadang kita kenal dengan "Dharma". Kalian pernah SD kan? Kalo SD berarti pernah ikut kegiatan Pramuka. 

    "Dharma Pramuka. Pramuka itu... Satu. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.. "

    Nah, di jenjang perguruan tinggi pun juga ada. "Tri Dharma Perguruan Tinggi" namanya. Apa aja itu? Tri itu antara lain:

1.Pendidikan dan Pengajaran
2.Penelitian dan Pengembangan 
3.Pengabdian kepada Masyarakat

     Itu 3 kewajiban yg harus dianut pada kita sebagai Mahasiswa. Ketika sudah jadi mahasiswa, sangat sering, tidak jarang dan sangat often (hwalah) aku mendengar kata "kontribusi untuk masyarakat" "mengubah masyarakat menjadi lebih baik", agent of change, social control dan blablablablaaa yang orientasinya semua menuju ke kata "masyarakat"

     Aku punya cerita yang menarik dari pemateri ketika ada acara Pelatihan Karya Tulis Ilmiah di kampus, pematerinya cowok. Mas-mas ini mukanya jowo banget, tapi kumisnya cino banget (rasis anjay). Yang tengah tipis, pinggiran kanan kiri tebal (koyok iwak lele) Perawakannya ga begitu besar, wajah standar dan ada sedikit bulu hidung mencuat cuat. 

Jadi si masnya bercerita sperti ini:

Saya pernah ikut ke sebuah seminar yang isinya sama mahasiswa2 hebat. Kahima, Ketua Bem Fakultas, PresBem dsb. Nah, ketika itu pengisi materi bertanya seperti ini: 

"Bagaimana caranya mengatasi permasalahan yang ada di Indonesia?" 

Semua mahasiswa mengacungkan tangan dan menyampaikan gagasan dan solusinya mengatasi permasalahannya. Semua menyampaikan pendapat yg dahsyat,

"Oh korupsi begini.. oh kebanjiran begini.. kemacetan begini.."  yah namanya saja Kahima, Ketua Bem dsb, pemimpin harus pandai berbicara dan berargumen.

Kemudian, pemateri mengeluarkan pertanyaan keduanya yang membuat mahasiswa kebingungan.

"Siapa disini yang kenal 10 nama tetangga depan belakang dan kanan kirinya?"

Kondisi menjadi hening. Entah karena pertanyaan satu dan dua tidak ada korelasinya sama sekali atau bagaimana. Tapi nyatanya tidak seantusias pertanyaan sebelumnya yg justru bobotnya lebih dari yg kedua. Tidak ada satu orang pun yang mengacungkan tangan

Tiba tiba saja, si pemateri menggebrak meja. 

*BRAK!* 
"BULLSHIT OMONGAN KALIAN SEMUA BARUSAN! OMONG KOSONG! 

Mana mungkin kalian bisa merealisasikan kalimat kalimat kalian kalo misalkan, HAL TERDEKAT, dan TERKECIL hanya menghafal nama tetangga saja gak mampu. Bullshit!

Kalian mau membenarkan masyarakat? Mau mengabdi pada masyarakat tapi masyarakat yg disekitar kalian,.. tau namanya saja tidak."


Mendengar kalimat itu semua mahasiswa benar-benar terpukul. Nah begitu ceritanya, Kala itu semua peserta tercengang dan cuman bisa diam dihadapan pematerinya, kalo cerita full nya kelamaan, nanti materi PKTInya ga saya mulai dong. Sisanya silahkan di pikirkan sendiri:)

     Dari cerita si mas ini, aku mencoba bercermin sama diriku sendiri. "Iuran" atau "Kontribusi" apa yang pernah aku berikan ke tetangga, atau orang-orang sekitar rumah. Hasilnya mungkin mendekati angka Nol. 
    
   Aku pun juga sering menyesali kegiatan-kegiatan yang aku lakukan selalu diluar rumah. Yah gara-gara itu, nggak jarang juga Ibuk marah-marah kalo misalkan ada undangan tahlil, karang taruna aku nggak dateng. 

   Masih teringat ketika jaman SMP, jaman dimana nama facebook masih "Naufal Gokiel Abiezz". Jaman dimana masih ada waktu senggang antara kewajiban pendidikan yang aku jalani dengan hak kebebasannya (uhuy). Mungkin PR ngga terlalu banyak, weekend juga gak ada kegiatan. Alhasil aku masih punya waktu kumpul bareng temen-temen karang taruna, Main bola tiap minggu pagi & sore, ngewarnet, main ninja saga, pointblank, (gapenting) bantu-bantu kegiatan RT, Malam tujuh belasan dan sbgainya. Buktinya bisa dilihat di foto ini: 

Cari yang paling imoedh

    
    "Tetangga adalah saudara yang paling dekat" Kalimat mainstream ini sudah pasti pernah kalian dengar. Di Bannernya pun juga tertulis "Keluarga Besar". Tapi, coba bercermin lagi: Apa embel-embel "sodara","keluarga" udah sejalan dengan perilaku kita? Hmmmm.. Mungkin jawabannya kayak paragraf sebelumnya: "Hasilnya mungkin mendekati angka Nol."

     Ketika beranjak SMA, Aku dipertemukan lagi dengan keluarga baru. Keluarga Besar SMAN 16 Surabaya. Dan juga aku bertemu dengan penjara yang siap mengekang saya. apalagi kalo bukan PR dan tugas-tugasnya. Mulai kelas 2 dan kelas 3 kegiatan-kegiatan karang taruna hampir tidak pernah aku ikuti, karena alasan ini itulah, sibuklah. Akhirnya sangat jarang ada interaksi sama temen-temen deket rumah. Dan hal ini juga terjadi ke beberapa teman rumah yang seusiaku. 
     
    Makin lama, ikatan ini makin hilang. Temen-temen rumah yang dulunya sangat akrab diajak ngobrol, kadang ketika bertemu atau menyapa, aku sedikit canggung. Sungguh aneh tapi nyata takkan terlupa Kisah kasih disekolah dengan si diaaaaa~,,adjflajndkalfidaf

    Mungkin di lain sisi, aku memang bertemu banyak teman baru di lingkup sekolah, Tapi ya gitu, ketemunya cuman di sekolah. dan yang "terdekat" sampai lupa :) 

    Insyallah, dari cerita ini, aku nggak cuman bercermin. tapi juga merealisasikan solusi dari kejanggalan ketika ngaca. Walaupun terdengar sulit. Soalnya selama jadi Mahasiswa ITS, dan Anak Desain, aku selalu berangkat pagi pulang pagi. Kalo gak percaya tanyak sama anak desain juga :p

    Kita mungkin masih di tahap poin 1 atau 2. Pendidikan dan pengembangan. Sehingga fokus kita selalu pada kata "Belajar, belajar dan belajar." Tapi apa salahnya kalau kita justru sudah mulai "Mengabdi" sejak dini, walaupun kontribusi yang kita lakukan tidak sebegitu besar? 

(JAMBRET WASIK BANGET OMONGANKU NGUWOAKAKKAKFJEAFKSDF)

    Yaudah deh segini aja curhatannya. masih ada banyak tugas yang belum tak kerjain,

oiya.

   Hei mahasiswa yang mbaca, Gimana? Siap mengemban amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi? :) 

Minggu, 16 Juli 2017

Posted by Naufal Afthony |
     
SMA sudah usai, sekarang waktunya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, hanya pelajar-pelajar khusus saja yang bisa menempati kursi itu. Pelajar khusus itu seperti apa? 

Pelajar khusus itu bisa pelajar yang sangat pandai, 
bisa pelajar yang rajin berdoa, 
dan bisa pula pelajar yang bejonya luar biasa. 
Kalian, masuk yang mana :) ?

     Sekarang aku sudah lulus SMA, dan Alhamdulillah sekarang bisa mendapatkan kursi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (dapet doang, kuliah kagak). Semua teman-temanku yang sekarang sudah mendapatkan kuliah, baik melalui jalur snm, sbm dan mandiri, sangat bersyukur dan puas dengan pencapaiannya. Dan mungkin bagi kalian yang belum dapat kuliah, yang ada di benak kalian sudah pasti:

“Ya jelas aja mereka bersyukur dan puas, mereka sukses! Sudah dapat kuliah dan nggak bingung mikir-mikir sekolah lagi.” Kata Sukimen

Atau mungkin, ada juga yang berpikiran:

“Wah hebat banget temen temenku aku harus bisa. Temen-temenku bisa, kenapa aku enggak? Bismillah.” Kata Sukijan.

Hmm.. kayaknya sih sedikit sih yang kayak Sukijan.

     Kalau kamu sekarang berpikran seperti Sukimen, Kamu nggak akan bisa bersyukur atas hal-hal “kecil” yang kamu punya sekarang ini, dan baru berencana bersyukur kalau nanti sudah bisa dapet kuliah, sudah sukses. Yahh, aku jamin hidupmu bakal sengsara. Karena seluruh kehidupanmu sudah terkotaki dengan pikiran negatif.

     Mungkin kamu juga bertanya-tanya, “OPO SENG ISOK TAK SYUKURI? AKU GORONG ENTUK KULIAH, URIPKU BERANTAKAN.” Di detik ini coba sadari, kamu harus bersyukur Karena punya mata, masih bisa membaca post ini. Dan di detik ini kamu harus bersyukur udah lulus SMA, sedangkan diluar sana banyak anak yang nggak bisa sekolah. Kamu harus bersyukur meski ditolak kuliah / sekolah pilihan pertama, sedangkan diluar sana masih banyak pemuda seperti aku yang ditolak cintanya #blar. 

     Karena sudah penuh pikiran negative, energimu sudah pasti terbuang Karena pikiran tadi, otomatis kamu jadi cepat capek, nggak ada kerjaan, hasilnya selalu jelek dan kamu akan selalu frustasi. Nah kan. Ora iso hepi.

     Kalau pikiran kamu seperti Sukijan, pasti pikiranmu jernih. Sehingga bisa fokus ke hal-hal positif, bisa merencanakan kesuksesan yang ingin diraih, dengan demikian tenaga terkuras Karena pikiran-pikiran yang nggak perlu, dan jangan heran yang kamu rencanakan itu bisa tercapai :)

Aku (Alhamdulillah) diterima di ITS melalui jalur undangan.


Waktu itu ngecek pake HP, dan pas tau warnanya IJO (kalo merah artinya tidak keterima), Gila rasanya. Lemas, Antara senang, hepi dan sedih Karena ditolak pilihan pertama:

Karena aku orangnya suka menantang diri sndiri, suka dengan hal-hal yang berkompetisi, ketika dapat berita itu, pertama muncul rasa syukur yang suwangat besar. Tapi apakah setelah mendapatkan pencapaian itu, aku hanya bersyukur aja? Oh enggak dong :)


     Aku memang diterima di Interior, tapi jiwa-jiwa seorang desainer grafis, filmmaking, nggak akan mati. Bakalan berkembang dan terus akan aku jalani sampek akhir hayat #hwasek

     Walaupun orang-orang bilang: 

“Wah selamat ya keterima di interior ITS. Pasti besok jadi konsultan desain yang hebat.” 

“Eh engkkok lek aku mbangun omah, njauk tulung ndesainno ruangan dalem e yo.”

“Mantab rek, engkok duwe perusahaan interior dewe.”

     Mendengar itu semua, responku senang yang tidak terlalu senang dan mengucap Amin dalam hati. Toh, lagipula sejak kecil aku tidak pernah bermimpi jadi seorang konsultan desainer interior. Dan sampai saat ini belum pernah terpikirkan akan jadi itu. Tapi bukan berarti aku benci ya.

     Atau kamu juga berpikiran sama? Misalkan kamu diterima di pilihan kedua Ilmu keperawatan, Karena Pilihan pertama Kedokteran ditolak. Apakah mimpimu jadi dokter itu akan berpindah menjadi perawat atau mimpi itu mati, berganti mimpi lain? Hmmm..

     Ibuku selalu bilang,

     “Kalau bercita-cita itu nggak boleh nanggung. Mimpi manusia itu sangat besar! Kamu sekarang masuk Interior, jalani aja. Suatu saat yah siapa tau jadi seorang konsultan desainer interior. Taaapiiiii… harus ada “YANG”-nya.”

“Maksudnya buk?” tanyaku sambil mengupil karena sudah gak mudeng.

“misalkan nantik anake ibuk, jadi konsultan desain YANG penulis buku.
jadi konsultan desain YANG seorang sutradara film.
Jadi konsultan desain YANG jago menggambar. Gitu dek.”

“OOOHHH” Jawabku tersenyum sambil meletakkan upil di bawah meja.

     Sedikit cerita bulan puasa lalu, aku mendapat rezeki yang luar biasa. Bukan uang. Tapi lagi-lagi pencapaian. Aku diminta untuk jadi pemateri seminar kit, workshop di acara Creative Art FKH Universitas Airlangga Surabaya :0 

    Aku belum pernah ikut seminar kit, sekalinya ikut, eh langsug disuruh jadi pengisi HAHA

     Ibukku selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur sama Allah dihujani rezeki seperti ini, dan tetep rendah hati sama orang-orang. Jangan merasa derajat kita naik satu anak tangga, toh di hadapan Allah manusia pada dasarnya bukan dilihat dari segi materi.

     Di acara itu, memang honor yang aku dapat terbilang kecil dari pengisi acara satunya mbak Novita Pratiwi. Yah mungkin si panitia menganggap bahwa aku memang masih pemula dalam mengisi atau bagaimana hehe, tapi aku sangat berterima kasih dan bersyukur karena sudah mempercayai aku sebagai pemateri. Itu nilainya udah tak terhitung buat saya hwehe.
Tapi saat hari H acara selesai, tau nggak kalian yang panitia katakan?

     “Suwon yo fal, dino iki. Sepurane sisan lek pesertane ga sepiro akeh. Tapi alhamdulillah hari kedua iki lebih ngangkat kok, awakmu pembawaane lebih isok diterima mbek arek-arek timbang hari pertama. Opo mane seng video-vidiomu mau haha, wes sangar. Soale seng hari pertama rodok kacau karna briefing e kurang dari pihak panitia karo pemateri.”

     Yah memang dari segi finansial, mbak Novi lebih kuantitasnya. Sebaliknya saya. Tapi, soal totalitas, kesiapan materi, saya juga nggak kalah dong haha.

     Nah dari awal, nggak usah peduli caranya, yang penting kita punya mimpi dan mau berusaha sekeras mungkin. Jalan ke arah sana akan muncul dengan sendirinya. “Berkompetisilah dengan diri sendiri. Jangan cuman jadi orang yang satu kali sukses. Setelah sukses cari jalan lain untuk melewati hal yang pernah kamu lakukan. Saya yakin atas segala hal yang saya lakukan, dan saya akan selalu melakukan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik.”  Kata si bapak ini.

     Nah ketika saya menceritakan semua ini, mungkin kalian (nggak) bakal bertanya:

“Loh fal,thon,mbang,dun.. kamu bilang suka menantang diri sendiri melakukan hal-hal yang lebih, yang didasari rasa gak pernah puas, berarti kamu bukan tipe orang yang nggak pernah bersyukur ya?”

Di KBBI udah sangat jelas, arti dari dua kata itu jelas berbeda. Dengan demikian, arti nggak pernah puas itu bukan berarti nggak bersyukur.

Misal nih, Hari ini Ulangan nilai kimiaku 60, temen-temen yang lain 40. Boleh dong kalo aku merasa nggak puas dengan nilai itu? Anggap saja aku nggak puas dan mau lain kali bisa dapet nilai 80. 
Apakah dengan begitu saya dianggap tak bersyukur?

Percaya ngga percaya, semua orang sukses yang aku tahu, selalu bersyukur dan nggak pernah puas. Mau sukses? Coba Terapkan kedua hal itu deh :)